APA YANG DUNIA KITA HADAPI SEKARANG

1. KRISIS ENERGI
Saat ini, dunia menghadapi krisis energi yang didorong oleh lonjakan harga, didorong oleh pemulihan ekonomi yang cepat dan invasi Rusia, yang telah mengirim harga minyak dan gas ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Krisis ini diperparah oleh ketergantungan kita yang tinggi pada bahan bakar fosil, menyebabkan penipisan karena aktivitas penambangan yang luas. Selain itu, sumber energi terbarukan kurang dimanfaatkan, hanya mencakup sekitar 11% dari konsumsi energi global. Hal ini memperburuk tidak hanya krisis energi tetapi juga krisis iklim dan polusi udara yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil. Konsekuensi lingkungan yang dalam, termasuk efek rumah kaca, peningkatan suhu global, curah hujan yang berkurang, kegagalan panen, dan peningkatan penyakit pernapasan. Mengatasi tantangan ini sangat penting, membutuhkan pergeseran menuju praktik energi berkelanjutan untuk masa depan yang lebih sehat dan tangguh. Dalam hal permintaan energi, statistik menekankan kebutuhan mendesak akan solusi energi yang beragam dan berkelanjutan untuk mengurangi krisis saat ini dan melindungi dari tantangan masa depan.

Sementara itu, dalam hal konsumsi daya di rumah dan pengaturan layanan, berbagai perangkat rumah tangga menunjukkan penggunaan energi yang berbeda berdasarkan jenis, model, dan pola penggunaannya. Berikut ini adalah gambaran singkat tentang nilai daya rata-rata perkiraan untuk berbagai perangkat: Perangkat masak memiliki konsumsi daya yang beragam, mulai dari kompor listrik hingga microwave, dengan rentang 1.000 hingga 5.000 W. Konsumsi daya pencahayaan bervariasi; bola lampu pijar menggunakan sekitar 60 W, sementara lampu LED hemat energi hanya mengonsumsi 8-12 W. Perangkat pendinginan ruangan seperti AC jendela/portabel biasanya mengonsumsi sekitar 500 hingga 1.500 W, sementara sistem pendinginan sentral dapat mencapai beberapa ribu W. Pemanas listrik untuk pemanasan ruangan dapat mengonsumsi 500 hingga 2.000 W untuk menjaga suhu ruangan. Perangkat listrik seperti kulkas, mesin cuci, dan televisi dapat mengonsumsi dari 100 hingga 800 W, tergantung pada jenis dan ukurannya. Pemanas air listrik biasanya membutuhkan sekitar 3.000 hingga 5.000 W, sementara beberapa pemanas air gas juga memerlukan sedikit listrik untuk menggerakkan sensor.

2. KRISIS IKLIM DAN POLUSI UDARA
Krisis iklim dan polusi udara sangat dipengaruhi oleh pembakaran bahan bakar fosil, yang menghasilkan efek yang merugikan:

-Efek Rumah Kaca: Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan gas rumah kaca seperti karbon dioksida, menyebabkan penangkapan panas di atmosfer Bumi. Fenomena ini, yang dikenal sebagai efek rumah kaca, berkontribusi pada pemanasan keseluruhan permukaan dan atmosfer planet.
-Penurunan Curah Hujan: Perubahan kondisi atmosfer akibat emisi gas rumah kaca dapat mengganggu pola hujan tradisional. Gangguan ini sering kali menyebabkan penurunan curah hujan di beberapa wilayah, memengaruhi sumber daya air, pertanian, dan ekosistem.
-Kegagalan Panen: Perubahan dalam pola suhu dan curah hujan akibat pembakaran bahan bakar fosil dapat berdampak negatif pada pertumbuhan tanaman dan produktivitas pertanian. Kegagalan panen menjadi lebih umum karena kondisi iklim menjadi kurang menguntungkan untuk praktik pertanian tradisional.
-Infeksi Saluran Pernapasan Atas: Pembakaran bahan bakar fosil melepaskan berbagai polutan dan materi partikulat ke udara, berkontribusi pada kualitas udara yang buruk. Paparan yang berkepanjangan terhadap polutan ini meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan atas dan memperburuk kondisi pernapasan yang sudah ada di antara populasi yang tinggal di daerah yang terpolusi.
Mengatasi masalah yang saling terkait ini memerlukan upaya bersama untuk beralih ke sumber energi yang berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan kita pada bahan bakar fosil.